Minggu, 02 Juni 2013

Empty

#1

Aku benar-benar habis kesabaran. Hari ini memang bukan hariku, sudah hampir dua kali aku menangis.
      "Argghhhhhhh!!" Aku berteriak sambil meremas handphoneku -yang jika bisa bicara mungkin akan berteriak kesakitan-.
       Mataku masih memanas, tapi air mata tetap tertahan. Sungguh bukan hal lucu jika menangis di area umum seperti ini. Eh tunggu, aku merasakan sorotan-sorotan mata menyelidik kearahku.
       "Ah sial." Aku membatin.
       Sudah susah-susah menahan tangis, tapi tetap saja jadi pusat perhatian. Yah, itu karena aku baru saja menjerit seperti orang gila. "Bodoh...bodoh.." batinku sambil terus menundukkan kepala karena malu.
     "Mbak, kami sudah mau tutup." suara seseorang memecah renunganku. Aku menengadah melihatnya.
      "Kenapa seperti ini semua sih? bahkan aku tak punya waktu untuk merenung...!!!" Emosiku akhirnya meledak. Seperti kata JKT48 "seperti popcron yang meletup-letup."
       "Eh..." Mas-mas pemilik suara tadi nampak bingung, terlihat dia menggaruk-garuk kepalanya yang terlihat tidak gatal.
       "Arrrggghhh!!!" Aku menjerit sekali lagi lalu berjalan kearah pintu keluar. Aku tak peduli apa yang ada dipikiran mereka yang ada disini. Toh, apa mereka peduli dengan masalahku?
         Sedikit lagi sampai kepintu keluar, suara mas-mas yang tadi menghentikan langkahku.
        "Mbak tunggu..."
         Aku menoleh, "Apa lagi sih...!!!" bentakku.
       "Ah..itu..hm... buku itu mau dipinjem ya mbak? Pinjemnya dikasir sebelah sana mbak." ujar mas yang tadi sambil menunjuk arah kasir yang telah aku lewati beberapa langkah.
        Aku menatap bingung.
       "Itu.. buku yang mbak pegang itu, buku toko kami. Mbak mau pinjam kan? buktinya dibawa-bawa." ujarnya lagi sambil tersenyum entah karena ramah atau mau menertawakan kebodohanku.
       "Ah... iya...eh.." jawabku bingung. Kepalaku benar-benar terasa sakit.
       "Sini biar aku bantu." Mas yang tadi kelihatannya tahu kalau aku benar-benar butuh bantuan.
    Dia menghampiriku yang masih berdiri mematung, mengambil buku yang dengan refleks kusodorkan, menuju kearah kasir yang terletak beberapa langkah dari sana.
      "Mbak punya member card toko kami gak?" tanyanya ketika sudah berada didepan kasir.
      Aku menggeleng. "Sebenarnya aku sedang apa sih?" batinku.
      "Ya udah pakai punyaku yah." ujarnya kemudian.
     Tak berapa lama, ia kembali sambil memegang buku yang tadi.
      "Ini.." Ia tersenyum lembut lalu menyerahkan bukunya.
      "Itu buku yang bagus. Aku sudah tiga kali membacanya." lanjutnya kemudian.
      Aku masih tetap menampakkan muka bengong. Benar-benar tingkah yang bodoh.
      "Mbak...mbak.."  Ia mengibas-ngibaskan tangannya kedepan mukaku.
      "Ah...yah.." Aku mengambil buku dari tangannya.
      "Aku berharap mbak bisa terhibur dengan cerita didalamnya. Tak peduli apa yang mengganggu pikiran mbak hari ini, tapi semoga bisa lebih baik." Ucapnya benar-benar meyakinkan.
       "Semoga...." Aku benar-benar berharap demikian.
       Aku membalikkan badanku, berusaha melangkah keluar. Aku benar-benar tidak dapat berpikir, bahkan memikirkan bahwa aku baru saja dibantu. Sebenarnya aku tak berniat untuk dibantu meminjamkan buku -apa ini? aku bahkan tak tahu judulnya- yang kubutuhkan sebenarnya...
      "Terima kasih sudah datang. Jangan lupa datang lagi. Toko kami meminjamkan aneka jenis buku." Suara nyaring mas-mas tadi terdengar saat aku sedang menggenggam handle pintu keluar.        
       "Ah.. yah.. aku belum mengucapkan terima kasih." Aku mendesis pelan. Tak peduli apapun pertolongannya, tetap saja aku harus mengucapkan terima kasih kan.
         Aku menoleh kearahnya yang rupanya telah beranjak pergi kerah dalam toko.
        "Tunggu..." Teriakku.
       "Ya?" Ia menoleh.
        "Terima... kasih..." Ucapku terbata.
        "Apapun untuk pelanggan kami." Ia tersenyum kemudian melanjutkan, "Dan jangan lupa, lain kali buat member card toko ya. hm...bill buku itu, kali ini aku yang bayar."
        "Eh pinjam bukunya bayar...?" Aku bertanya, benar-benar tidak tahu.
       "Iya mbak yang baru pertama ketoko kami." lagi-lagi ia menjawab sambil tersenyum.
       "Ah..." Mukaku mungkin telah benar-benar merah.
        "Tidak pa-pa. Semua hal, pasti didahului dengan yang pertama." ucapnya.
       "Ya.." balasku
       "Kalau sudah yang pertama, akan ada yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya kan?" Ia bertanya.
         "Oh...ya...tentu." Jawabku.
        Hening... kemudian kami sama-sama berbelok kearah yang berlainan.
        "Aku Ray..."Aku menoleh saat mendengar lagi suaranya. Dibalik pintu kaca toko buku itu aku melihatnya melambaikan tangan.

To be continued..........
       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar