Sabtu, 22 Desember 2012

Dialah Ibu :)

kala kita masih berupa benih, senyum mekar tanda haru mengembang dibibirnya
kala ruh ditiupkan, semua do'a terus terucap dari bibirnya
kala raga ini masih menyatu dengannya, semua dicurahkan baik kasih, stimulasi, maupun nutrisi
kala waktunya tiba, dia berjuang dengan taruhan nyawa agar kita bisa melihat dunia
kala tangisan pertama kita keluar, itulah tanda kebahagian luar biasa untuknya
kala waktunya tiba, dia ajarkan kita memijak bumi, melafalkan kata demi kata, menggunakan setiap benda, terus mengajarkan kita sampai pada saat mulai mengenal huruf
dialah yang mengantarkan kita kedunia baru, dunia putih merah yang penuh warna
kala kita mulai mengetahui dunia, mempelajari setiap pengetahuan baru, dialah orang yang duluan bangga dan mendukung kita
kala kita bersedih dialah makhluk paling lembut diseluruh dunia, air matanya akan ikut menetes
 kala kita ada masalah, dialah orang pertama yang ikut memecahkannya
kala kita sakit, tangan lembutnyalah yang akan merawat kita
dengan seluruh yang dia punya, diurusnyalah kita
dari hembusan nafas pertama kita didunia sampai semua sisa waktu yang dia punya
pelukan penuh kasih selalu dicurahkannya untuk kita
   tanpa henti, tanpa pamrih...
dialah, makhluk paling mulia bernama "IBU"
:)

Kamis, 13 Desember 2012

who...................?

Akhirnya sempet juga nulis blog :D kali ini berhubung temanya "HOROR" jadi penuh semangat buat nulis cermis, tapi berhubung masih pemula mohon dimaklumi jika ceritanya sangat-sangat biasa aja ^^
selamat membaca, salam ^O^)/


           W
              H
                 O
                     ?

                     Sinar matahari begitu hangat menyinari dua gedung berjajar bertingkat dua yang terletak di gang mawar siang itu, di serambi bangunan A lantai 1 dengan pintu kamar bertuliskan "AYA" duduklah lima orang mahasiswi dengan obrolan panjang khas remaja putri, semuanya seperti biasa, ramai, riuh, dan menyenangkan
"minggu depan masa tenang, uli mau mudik"
"ayu juga"
"meti sama andin juga"
"iya"
"lah, kalian mudik semua yah, terus aya sendirian dong di kosan" ucap aya yang sepertinya gak terima
"yah sudah aya mudik juga" usul andin yang tadi gak ikut ngomong
"iya ya, nanti bawain duren buat oleh-oleh"
"setuju" ketiga teman lainnya menjawab bersamaan pernyataan ayu
"tapi kan minggu lalu aya udah pulang, dan aya gak mungkin pulang lagi, pasti gak dibolehin, walaupun aya pengen ziarah lagi kemakam"
"nah itu, kan waktu aya pulang itu karena musibah, nenek aya meninggal, kok sekarang gak boleh pulang lagi?" tanya meti
"soalnya, ibu aya bilang nanti aya capek" aya sedikit kecewa
"ya udah, aya tenang-tenang aja dikosan, jagain kosan, nanti kita pulang bawa oleh-oleh yang banyak buat adek bontot kita ini"
"ini kali pertama aya ditinggal sendiri dikosan loh mbk uli tersayang, yang ngakunya paling tua"
"tuh aya ngambek jadinya ul" meti menyikut lengan uli sedikit
memang diantara kelima mahasiswi ini, aya adalah mahasiswa baru yang umurnya dibawah yang lain, namun walau baru kenal beberapa bulan terakhir sifat aya yang mudah bergaul membuatnya diterima dengan mudah di kos putri gang mawar ini, namun itu tak berlangsung lama karena kejadian berikutnya akan membawa aya mengetahui siapa sebenarnya dia........
              Aya keluar keberanda belakang kosannya untuk menjemur beberapa potong pakaian, "masih subuh" batinnya, hari ini mulai minggu tenang dan suasana kosnya sangat sepi tak seperti subuh-subuh biasanya yang penuh riuh kesibukan para mahasiswi ala gang mawar, diletakannya ember berisi pakaian basah, matanya memandang tepat ke cahaya fajar yang mulai menyingsing, sungguh indah, mata aya masih memandang sang surya ketika tetes demi tetes air jatuh kemukanya, semakin lama semakin deras, aya yang mulai menyadarinya segera menyeka mukanya dengan tangan tapi alangkah terkejutnya aya ketika melihat tangannya berubah warna menjadi merah, dari beranda atas kucuran darah merah segar meluncur dengan derasnya membuat aya menjerit keras "tolong"
              Pukul 08.00 wib polisi yang datang mulai memeriksa kamar atas kos aya, ditemani ibu kosnya aya hanya diam membisu, didorong oleh rasa takut yang amat sangat aya langsung menelpon polisi, aya yang sangat menggemari novel detektive ini sangat yakin bahwasanya telah terjadi pembunuhan di kamar atas
"semua sudut ruang telah diperiksa, dan tim kami tidak menemukan mayat yang saudari maksud, bahkan tetesan darah pun tidak" ujar pak polisi dengan perawakan seram plus kumis tipis panjang yang sangat kontras bila dipandang itu
"t...a...pi pa..k, aya, aya memang me..li..hat tetesan darah i..tu... sungguh...sungguh" jawab aya dengan terbata-bata
"lalu jika memang demikian, kemana hilangnya? bahkan tim kami telah memeriksa beranda dengan reaksi luminol dan tidak ditemukan bekas darah sedikit pun" sang polisi dengan tegas menjawab
"sebaiknya nyonya anda perhatikan semua anak kos disini, mungkin tekanan kuliah telah membuat saudara aya berhalusinasi" tambah sang polisi kemudian pamit pergi
aya masih terdiam, dia tak habis pikir kemana hilangnya darah atau apapun itu yang menetes dari beranda kamar atas, aya yang gak percaya mistis sangat sulit menerimanya
"aya, kalau begitu ibu pamit juga, ada urusan, aya yang tenang ya, mungkin saja aya kelelahan kurang tidur semalan"
aya gak menjawab ucapan ibu kosnya, matanya menerawang jauh, memikirkan hal logis dibalik kejadian yang dilihatnya tadi pagi, bahkan aya tak mampu menjelaskan kemana hilangnya bekas darah dimuka dan tangannya, yang sangat aya yakini bahwa dirinya tidak lebih dulu membersihkannya tadi.
               saat ini sudah larut malam, dan kabar buruknya aya gak bisa tidur, aya gak percaya mistis dan aya terus berpikir logis layaknya tokoh detective idolanya, tapi semakin aya berpikir semakin mebuatnya tidak tenang, namun lama kelamaan matanya mulai tertutup, tubuhnya mulai membiasakan diri merasakan nyamannya kasur tempatnya tidur, namun sekali lagi tetes demi tetes air dengan warna merah pekat itu membasahi pipinya, membuat mata aya langsung terbuka, tak sepanik tadi pagi aya kali ini lebih berani untuk memperhatikan aliran darah dari atas atap tempat tidurnya dari kamar atas, "pasti ulah teman-teman yang mau ngerjain aku" itulah alasan logis pertama yang dapat aya pikirkan saat ini, kalau reaksi luminol gak ditemukan berarti ini bukan pembunuhan berarti ini darah palsu, yah darah palsu, aya sangat yakin, kemudian dengan rasa berani yang jika dipikirkan sangat sulit untuk dimengerti akal sehat seorang gadis berusia delapan belas tahun itu sendiri, aya keluar kamar kosnya, menaiki satu demi satu anak tangga menuju lokasi TKP aliran darah itu, bulu kuduknya entah kenapa tidak juga berdiri dan tidak ada suara halus membisik, (oh andai saja aku disana mungkin akan kuteriakan kepada aya untuk kabur atau memberinya sedikit rasa takut (tapi gimana bisa, kan ini cuma fiksi >< )). balik ke aya lagi yang sibuk menaiki anak tangga, dengan senter ditangan kanannya, matanya yang mulai menyelidik layaknya seorang mata-mata mulai menerawang jauh, suara langkah kakinya sangat kontras dengan keheningan malam, tapi tiba-tiba sunyi... tak lagi terdengar langkah kaki
"kamu kan calon penghuni baru yang datang seminggu lalu? aya kira kamu gak jadi ngekos disini" sapa aya kepada seorang gadis cantik berambut lurus sebahu yang berdiri tepat didepan aya, tepat didepan kamar kos yang telah tiga tahun terakhir menurut kabar telah kosong tak berpenghuni
sang gadis hanya tersenyum, kemudian memasukan kunci kelubang pintu dan masuk kedalam kamar berdarah itu
"tunggu, jangan masuk didalam adalah TKP yang gak boleh diganggu" aya berteriak mulai menirukan gaya detective kepolisian
"masuklah" terdengar suara dari dalam diiringi langkah kaki
aya menurut dan masuk, entah kenapa kondisi kamar sama seperti saat polisi meninggalkan kamar tersebut seperti tak pernah diusik lagi
"aya hanya belum terbiasa, aya hanya gak tau, aya hanya terkejut, nanti aya lama-lama akan mengerti" gadis tersebut tersenyum
"apa maksudnya?" pikiran aya dipenuhi tanda tanya yang menari-nari membuat kepalanya pusing
 "nanti aya akan mengerti" sang gadis tetap saja menjawab sambil tersenyum
"aya gak ngerti, aya gak tau, semuanya tiba-tiba terjadi, yang cuma aya tau semuanya pasti bisa dijelaskan dengan logis"
"semuanya?" sang gadis mendelik
"ya semuanya" saat mengatakan itu, angin berhembus masuk dari arah pintu diringi dentuman pintu yang terkunci, bulu kuduk aya sekarang barulah berdiri (akhirnya :D) suara sangat bising mengisi sunyinya malam bahkan jika kau ada disana suara ini mungkin dapat memekakkan telinga, aya pun tak kuat menahannya, semuanya menjadi gelap, tak ada sedikit cahayapun
             uli, ayu, meti, dan andin sibuk membereskan barang-barang mereka setiba dari kampung halaman masing-masing, suatu kebetulan mereka hampir tiba secara bersamaan, rasa lelah selama perjalanan membuat mereka malas untuk mengetahui kabar seputar kepergian mereka selama satu minggu ini, barulah ketika hari memasuki sore mereka mulai berkumpul diberanda depan, masing-masing dari mereka menyiapkan hidangan untuk santai sore
"besok ujian, padahal masih lelah"
"sama ul, aku juga"
"semua ujian kali met kan emang minggu perang"
"meti emang gitu andin, lemot" ayu menambahi membuat mereka semua tertawa walau rasanya gak lucu ._.
"eh kenapa adik kita diem aja, biasanya kan paling cerewet, gak kangen sama kita?" uli berusaha menggoda aya, namun aya hanya diam matanya tampak kosong
"yah, aya kenapa? gak asik?"
"apa terjadi sesuatu? ada pencuri masuk kosan?"
"gak mungkin ndin, kan ada bu kos, ya kan ya"
"gak apa-apa kok, selama kalian pergi semuanya baik-baik saja" aya membuka mulut dan tersenyum membuat semua teman-temannya ikut tersenyum, tapi mata aya tidak memperhatikan senyum teman-temannya melainkan memperhatikan gadis yang tanpa mereka sadari telah ikut bergabung bersama mereka, ikut tersenyum kepada aya
"yah, kini aya gak sama seperti aya yang dulu" ucap aya lagi, tapi karena terlalu lembut keempat temannya tak mendengar, hanya gadis itu yang menjawab "sekarang kamu mengerti aya?"
aya mengangguk tanda mengerti, semuanya berjalan seperti biasa bahkan ibu kosnya pun telah lupa mengenai kejadian tetesan darah, namun aya tak kan pernah lupa, bahkan untuk seumur hidupnya

                                                                   :O
Dua minggu lalu

          Aya menerima telepon dari keluarganya yang mengabarkan kabar penuh duka, telah meninggal dunia nenek dari ibunya, aya tergagap menjawab telepon, air matanya mengalir deras, nenek yang sangat disayangi dan menyayanginya sejak kecil telah tiada tepat dihari ulang tahunnya, sungguh aya tak bisa berkata apa-apa, segera dipesannya tiket travel menuju kota kelahirannya menemui sang nenek sebelum dimakamkan, kemudian dirumahnya sesaat sebelum neneknya dimakamkan aya melihat sosok seorang gadis cantik berambut lurus sebahu sedang muram, kemudian tersenyum saat melihat aya.
          Semuanya adalah benang merah yang tak bisa dilepaskan kaitannya, semua dapat dijelaskan secara logis, bahwa aya telah berbeda, aya benar-benar telah mewarisi sesuatu yang gaib dari neneknya.

The end~
akhirnya selesai :D tulisan ini dibuat dari dalam waktu lumayan singkat, jadi apabila ada typo mohon dimaklumi :O
yosh~ bagaimana? serem gak? ._.v